Secuil Cerita di Balik Nada

Secuil Cerita di Balik Nada Safari koor sebuah peleburan paduan suara dan orkestra SMA Sedes Sapientiae bertugas melayani perayaan ekaristi di gereja St. Ignatius Magelang. Dalam tugas pelayanan ini, kami dibantu oleh Bapak/ Ibu guru dan para pelatih yang turut serta melancarkan pelayanan kami.

Outing Class 2018

Outing Class 2018

Pada hari Senin, 21 Oktober 2018 Siswa-siswi SMA Sedes Sapientiae Bedono melaksanakan kegiatan outing class. Outing class kali ini bertempat di Yogyakarta.

Kepompong itu Akhirnya Menjadi Kupu-kupu

Kepompong itu Akhirnya Menjadi Kupu-kupu

“Setelah 100 hari ini waktunya untuk kembali fokus dan meningkatkan semangat yang baru, harus fokus... satu titik... hanya untuk... titik itu...  “, kotbah Romo Awangga, SJ sembari menyanyikan salah satu lagu Via Vallen tersebut. 

Keceriaan dalam Classmeeting

Keceriaan dalam Classmeeting

Seluruh siswa kelas X dan XI SMA Sedes Sapientiae Bedono mengikuti kegiatan classmeeting yang diadakan di lapangan futsal sekolah. Classmeeting ini dilaksanakan selama 2 hari, yakni tanggal 5 - 6 Oktober 2018. 

1  2  3  4  5  ...  71

Secuil Cerita di Balik Nada

07 November 2018

Secuil Cerita di Balik Nada

Kali ini, Safari koor sebuah peleburan paduan suara dan orkestra SMA Sedes Sapientiae bertugas melayani perayaan ekaristi di gereja St. Ignatius Magelang. Dalam tugas pelayanan ini, kami dibantu oleh Bapak/ Ibu guru dan para pelatih yang turut serta melancarkan pelayanan kami. Setelah melewati beberapa serangkaian latihan, hingga akhirnya diberangkatkan anggota orkestra yang terpilih serta seluruh anggota paduan suara pada pukul 04. 30 WIB menggunakan mini bus.

Sebelumnya, Sabtu (3/11), para anggota orkestra dan choir SS Lauda yang mengikuti kegiatan pelayanan, tengah mempersiapkan gladi bersih di halaman gua Maria Sedes Sapientiae Bedono. Kegiatan pelayanan ini akan dilaksanakan besok Minggunya (4/11) di Gereja St. Ignatius Magelang. Kegiatan gladi bersih ini diadakan mulai pukul 16.00 hingga pukul 19.00. Persiapan gladi bersih pada hari itu juga dapat berjalan lancar dan para anggota orkestra dan choir SS Lauda terlihat begitu semangat dan telah siap menampilkan yang terbaik untuk Tuhan.

Sebagai titik awal keberangkatan, kami berkumpul di halaman sekolah. Rasa kantuk yang menyertai kami tidak mematahkan asa kami untuk memuliakan Tuhan. Jujur perut kami sama sekali belum terisi sarapan, hanya modal niat dan semangat. Dinginnya udara pagi setia menemani kami mengisi perjalanan kami. Akhirnya kami tiba di tujuan, gereja St. Ignatius Magelang yang letaknya berada di tengah-tengah kota, dekat alun-alun kota Magelang, tak heran membuat umat yang datang pun tak sedikit. Kami tiba dan turun dari bis sekitar pukul 05.00 WIB dan segera mempersiapkan yang penting, yaitu alat musik sesuai posisi kami masing-masing. Pemanasan dan atur-mengatur sound sistem yang kami dahulukan agar keselarasan antar nada instrumen menjadi kompak. Itu yang kami prioritaskan, agar pelayanan kami berjalan sesuai harapan.

Tak menunggu lama, perayaan ekaristi yang pertama pun dimualai pada pukul 06.00 WIB. Lagu pembuka “Awalilah Kurbanmu” menjadi lagu pertama yang kami nyanyikan dan sekaligus mengawali pengalaman kami yang anak-anak kelas X. Demikian juga pada perayaan ekaristi yang kedua. Lagu pujian yang kami bawakan masih sama, namun pada perayaan yang kedua terasa berjalan lebih baik daripada yang pertama. Mungkin ada faktor ekstern yang mempengaruhi mental kami khususnya kelas X, seperti belum bisa menyesuaikan diri dengan suasana di gereja atau karena memang ini pengalaman pertama kalinya bagi anak-anak kelas X.

Perayaan ekaristi pada waktu itu dipimpin oleh Romo tamu dari Paroki Pugeran Yogyakarta, yaitu Romo Paulus Supriyono, Pr dan Romo Aloysius Triyanto, Pr, serta Romo Suratmi, Pr selaku Pastur paroki gereja St. Ignatius Magelang. Selanjutnya pada khotbahnya, Romo Paulus Supriyono, Pr memberikan sambutan baik dan ucapan terimakasih pada kami yang telah memberikan pelayanan di Gereja St. Ignatius Magelang. Selain itu Romo Paulus Supriyono, Pr juga menyinggung mengenai perlaku umat yang dapat menjadi ciri khas/ kebiasaan dalam kehidupan sehari-hari. Satu pepatah jawa yang kuingat terkait yang disampaikan Romo, yaitu “Lading landep iso ngiris driji, ilat landep iso ngiris ati”, yang berarti pisau tajam bisa mengiris jari, namun lidah yang tajam bisa mengiris hati. Segala yang kita ucapkan harus kita jaga agar relasi kita dengan sesama baik adanya dan tidak melukai atau menyakiti hati sesama.

“Marilah Kita Pergi” menjadi lagu penutup yang kami mainkan sebagai pembakar semangat umat dalam tugas perutusan sesuai yang disampaikan Romo dalam khotbahnya, menjaga setiap ucapan demi terwujudnya cinta kasih dengan sesama. Begitu tugas kami berakhir, kami mendapatkan jamuan hidangan penghilang rasa lapar berupa semangkuk soto ayam dan tempe mendoan dari pengurus gereja.

 

By:

Sindu X MIPA 2

Bella X MIPA 1



Back to Top