FA Cup: Memupuk Tali Persaudaraan Sedesian

FA Cup: Memupuk Tali Persaudaraan Sedesian Pagi yang cerah, semangat mengawali hari dengan upacara bendera. Nasioalisme tergugah, semangat perjuangan bergelora seiring dengan peringatan hari Kesaktian Pancasila dan hari Batik Nasional, mengalir menjadi satu dalam nadi menjadi semangat perjuangan dalam FA Cup.

Sedesians Fransiskus Assisi Day

Sedesians Fransiskus Assisi Day

Fransiskus Day kali ini bertepatan juga dengan perayaan panca windu Sr. M. Yovita OSF dan 25 tahun berkarya di Yayasan Marsudirini Bapak Hieronimus Ngaliman. Acara hari ini menjadi perpisahan dengan Sr. Yovita yang akan berpindah ke Jogja setelah setia mendampingi keluarga Sedes Bedono selama 17 tahun. Seluruh rangkaian acara yang telah diatur oleh panitia dapat berjalan dengan meriah dan penuh sukacita yang dalam persaudaraan diantara seluruh keluarga besar SMA Sedes Sapientiae Jambu.

Katur Surata, Katur Tanggel Jawab, Katur Bumandhala

Katur Surata, Katur Tanggel Jawab, Katur Bumandhala Dinginnya udara pagi yang masuk menembus kulit tak kami hiraukan, kami terus berjalan menyusuri hutan dan jalanan yang panjang. Pos demi pos yang kami lalui terasa melelahkan, namun setelah melihat titik akhir perjalanan rasa letih dan lelah tak kami hiraukan lagi. Tepatnya di tengah pepohonan karet menjadi saksi kami menjadi Ambalan Bima-Srikandi.

Merajut Budaya Bersama Warga Gereja

Merajut Budaya Bersama Warga Gereja

Jambu_SMA Sedes Sapientiae Bedono ikut meramaikan perayaan Lustrum ke-3 Paroki Thomas Rasul Bedono dengan berpartisipasi dalam acara Pentas Budaya yang berlangsung pada Minggu, 3 September 2023, di halaman gereja paroki Thomas Rasul Bedono.

1  ...  2  3  4  5  6  ... 104

FA Cup: Memupuk Tali Persaudaraan Sedesian

06 October 2023

FA Cup: Memupuk Tali Persaudaraan Sedesian
BEDONO. (2/10) Lalu dengan penuh antusias para Suster, Bapak/Ibu Guru Karyawan, serta siswa/siswi SMA Sedes Bedono melaksanakan upacara pada bulan Oktober. Upacara kembali digelar untuk memperingati hari Kesaktian Pancasila dan Hari Batik Nasional. Tak seperti upacara rutin bulan-bulan sebelumnya yang menggunakan seragam lengkap, para bapak/ ibu guru karyawan serta para siswa/siswi serentak menggunakan baju batik bebas dengan bawahan rok ataupun celana hitam. Hal ini dilakukan serentak untuk memperingati hari Batik Nasional yang diperingati setiap 2 Oktober.

Dalam amanat upacara, Bapak Alluisius Prananta, menceritakan pengalamannya terkait dengan bagaimana seharusnya kita menghargai setiap langkah kecil sebagai bentuk kita membela Negara. Pak Aloy menceritakan pengalamannya dulu waktu sekolah menggunakan topi secara terbalik. Tentu dari hal yang sekecil itu, hanya masalah menggunakan topi yang kurang benar menjadi kurang pas jika dilihat dari upaya kita menghargai jasa para pahlawan. Setiap langkah kecil yang kita lakukan seharusnya menjadi cerminan kita sebagai warga Negara yang berupaya menghargai setiap jiwa dan raga yang mereka pertaruhkan untuk kemerdekaan bangsa.

Gelora dan semangat untuk menjalankan hari pun sudah terkumpul kembali mendengar pengalaman mengesankan dari Bapak Alluisius Prananta. Tepat setelah barisan dibubarkan, para siswa/siswi pun diperkenankan untuk memasuki kelas untuk dapat mengikuti pembelajaran. Pembelajaran yang berlangsung tak seperti hari hari biasanya dengan satu jam pelajaran memiliki waktu sebanyak 45 menit. Dalam hari yang special kali ini, dalam satu jam pelajaran hanya mempunyai waktu sekitar 20 menit. Sehingga, pada pukul 10.05 kegiatan belajar/mengajar telah selesai dilaksanakan. Pembelajaran dipotong dan diselesaikan lebih awal pun bukan tanpa alasan. Hal tersebut dilaksakan untuk mendukung peringatan pesta Santo Frasiskus Assisi. Peringatan ini diadakan dengan mengadakan kegiatan Fransiskus Assisi Cup atau yang sering disebut dengan FA Cup.

Pada hari pertama penyelenggaraan FA Cup kali ini, mempertandingkan lomba voli laki-laki dari setiap angkatan. Sorakan riuh setiap angkatan untuk dapat membakar semangat dari para siswa yang sedang bertanding di lapangan pun terdengar sangat lantang dan bersemangat. Dengan diawali pertandingan dari angkatan 34 (Hugo) dan angkatan ke 35 (Isodorus), para pendukung dengan gemuruh menyuarakan setiap yel-yel yang sudah disepakati untuk dapat menyemangati para peserta pertandingan lomba voli. Tak henti-hentinya sorakan silih berganti dengan semangat dari para pendukung yang tersebar di sekitar tribun asrama putra. Setelah setiap pukulan bola, pergantian pemain, sorakan dukungan, hingga kata kecewa yang keluar dari teriakan para pendukung masing-masing angkatan, angkatan 34 pun berhasil mencetak poin yang lebih unggul dari angkatan 35.

Tanpa diberi waktu istirahat, pertandingan pun dilanjutkan dengan angkatan 33 (Hieronimus) dan angkatan 35 (Isodorus) yang menunjukkan masing masing taring mereka dalam lomba voli ini. Babak yang cukup menegangkan, mengingat babak ini mempertandingkan kelas 12 dan kelas 10. Tak kalah dengan babak sebelumnya, masing masing pendukung yang bersinggah sesuai angkatannya melantunkan setiap yel-yel yang membakar semangat dari para peserta dari tribun. Silih berganti sorakan masing-masing angkatan berhasil memenuhi lapangan pada siang yang terik itu. Sama halnya seperti pertanddingan pada babak sebelumnya, angkatan 33 berhasil mencetak poin yang jauh lebih unggul dibandingkan dengan angkatan 35.

Babak menengangkan pun akhirnya dimulai. Dengan mempertaruhkan angkatan 34 (Hugo) dan angkatan 35 (Hieronimus), pertandingan pun berjalan dengan sengit. Tak henti hentinya setiap yel yel disorakkan dengan penuh semangat dan terikan paling kencang yang bisa dilakukan. Setiap cetakan poin yang tak lepas dari gemuruh penonton dan pendukung yang menguasai selasar asrama putera kala itu. Greget akan setiap lemparan meleset yang dilakukan oleh angkatan 34 sudah menjadi teriakan yang biasa didengar. Dimana bola dipegang dan dilempar yang tak lepas dari pandangan penonton dan reaksi yang bermacam macam dari berbagai angkatan pula. Prediksi yang keluar dari sorakan para pendukung pun benar adanya. Angkatan 33 akhirnya memenangkan pertandingan bola voli hari ini. Namun, seperti yel-yel yang dirapalkan semua angkatan, menang, kalah, seri, sudah biasa.
 
Penulis  : Katarina Siena
Kelas     : XI.4/ Journalist of Sedes Sapientiae


Back to Top