BELAJAR UNTUK TANGGUH DALAM HIDUP BERKELANA DENGAN LIVE IN 2025
12 April 2025

BEDONO. Sabtu, (11/01) Dalam suasana gembira dan penuh antusias, di tengah-tengah lapangan para siswa berkumpul untuk pembagian tempat live in.
Live ini merupakan sebuah kegiatan pengembangan diri SMA Sedes Sapientiae Bedono yang diikuti siswa/i kelas XI setiap tahunnya. Dalam kegiatan ini, siswa/i diajak untuk berinteraksi serta tinggal dengan masyarakat yang berbeda dalam konteks sosial ekonomi di kehidupan nyata.Kegiatan live in mengharuskan para siswa untuk keluar dari zona nyaman dan menyesuaikan diri. Live in tahun ini mengangkat tema “Tanggon Urip Nglelana”. Dimana ‘Tanggon’ memiliki arti yaitu dapat diandalkan dan ‘Urip Nglelana ‘memiliki arti yakni perjalanan hidup tersendiri sebagai sebuah pengalaman dalam hidup berkelana.
Kegiatan ini dilaksanakan selama 5 hari dari tanggal 11 Januari 2025 sampai 16 Januari 2025. Dimana pada 4 hari pertama adalah penerjunan ke lokasi masyarakat, dan hari terakhir adalah pengendapan yang dilakukan di Rumah Retret Elika Bandungan. Siswa/I dibagi kepada 3 lokasi yang berbeda secara acak. Pembagian seperti ini membuat para siswa belajar berteman dengan semua orang, tak hanya beberapa teman dekat selama ini di sekolah. Lebih luas dari itu, siswa juga dipastikan belajar untuk memulai percakapan dan bersosialisasi dengan warga masyarakat di tempat tinggal sementara mereka. Menemani keseharian dan membantu pekerjaan orang tua angkat, pasti menjadi pengalaman baru yang penuh makna. Mereka juga belajar untuk hidup di tempat baru, dimana dari ketiga kabupaten itu sendiri memiliki karakteristik yang berbeda-beda.
Program ini dimulai dengan keberangkatan bersama yang penuh semangat, di mana mereka berkumpul di lapangan sekolah sebelum menuju lokasi. Dalam suasana yang ceria, semua siswa saling berbagi cerita dan antusiasme tentang pengalaman baru yang akan mereka alami.
Seperti yang sudah disebut diatas, Lokasi masyarakat sendiri terbagi atas 3 kabupaten. Berikut adalah penjelasan serta keseruan dari masing-masing kabupaten.Jurnalis of Sedes Sapientiae:
Anyelir Kirana Pramesthi/ XI A3.1
Catarina Widya Shelly Cristiyanadi/ XI A3.2
Inaya Ayu Wardani/ XI A3.2
Magdalena Beatrix Hio Ndaton/ XI A3.1
Elma Angelica Chen/ XI A3.2
Candella Esther Desfriwaty Damanik/ XI A2
Roswita Premacalya Dyani/ XI A3.1

Sebuah perayaan ganda yang sarat makna dan sukacita digelar dalam rangka memperingati Pesta St. Fransiskus Assisi. Suasananya yang begitu khidmat bercampur haru dan gembira menyelimuti perayaan Pesta St. Fransiskus Assisi yang diselenggarakan dalam bingkai tema liturgi Missa pro custodia creationis (Misa untuk Pemeliharaan Ciptaan).
Angin malam menyapu dahan dan ranting-ranting meniupkan persahabatan. Menambah beku menusuk dinding-dinding kain sintetis yang mulai mengembun. Empat hari tiga malam aku bergelut dengan alam yang penuh makna. Ada kebersamaan, persaudaraan, dan pelajaran hidup yang menguatkan.
Langit pagi itu begitu cerah. Namun angin di Selatan menggelayut awan. Aku pikir hari akan hujan di Jogja. Untungnya, hanya gerimis yang mengiringi langkah kami di sela-sela perjalanan refleksi ini. Tentunya, dalam perjalanan ini ada kebersamaan dan keakraban yang kami pungut.
Udara pagi begitu sejuk. Daun-daun kelapa melambaikan jemarinya dari tunas-tunas baru. Tunas-tunas kelapa tak pernah punah untuk bangsa ini. Menjadi inti dari kelangsungan hidup bangsa ini.

