Pemenang Lomba Puisi Hari Sumpah Pemuda

28 OKTOBER 1928

 

Terkenang selalu peristiwa itu..

Pemuda-pemudi dari sabang sampai merauke

Yang berkumpul dan bersatu

Membawa nama nusantara Indonesia

 

Dengan warna-warni keberagaman suku

Dengan niat yang luhur

Dan semangat muda ,

demi  persatuan bangsa Indonesia

 

Melahirkan sumpah pemuda…

Yang menjunjung tinggi persatuan Indonesia

Yang menjunjung tinggi bahasa yang satu,

Bahasa Indonesia

Yang menjunjung tinggi tanah air tempat kami berpijak

Tanah air Indonesia

 

Sumpah Pemuda…

Tumpuan harapan,

Kehidupan,

Dan bangkitnya persatuan pemuda-pemudi  Indonesia,

Dahulu, kini,dan nanti..

 

Karya :

E. Sekar Arum P.

XI SOSIAL 2


------------------------------------------------------------------

KANTUNG KANTUNG PERUBAHAN

Rosalia Winda Permata Sari


Gelap, padam sudah

Bahkan redup enggan menjamah

Tak satupun tergugah

Hasrat yang tak mau mengalah

Seakan tak ada yang salah

Bencana singgah tak pernah lelah

Nurani bagai sampah

 

Jutaan nyawa tak pernah lengah

Tak asing kata serakah

Semua urung tuk berubah

Inikah yang kau sebut sejarah ?

Yang kau lakukan hanyalah marah

Bahkan kau berikan darah

Sekedar tuk dapatkan jatah

 

Sadar ! Kau hanyalah debu tanah

Kapan nalarmu melangkah ?

Apakah kau akan terus menjajah ?

Di lorong yang kau jarah

Di tanah yang kau beri sumpah serapah

 

Mataku mulai lelah

Jiwaku berdarah

Bagai narapidana dalam  bui, tak bercelah

Menunggu hasratmu goyah

Menanti nafsumu rebah

 

Jujur, mulutku membantah

Atas apa yang kau tumpah

Mentalmu terlalu payah

Sekedar menahan diri  kau tak betah

Dan kau ucap sekedar kata ‘terserah’ ?

Kau manusia yang kalah

Kau buat jantung kota gundah

Urat nadiku membuncah

Dengan ringan kau lepas amanah

Mukamu bak topeng nan ramah

Sekedar meraup upah

Kau buat Tuhanmu resah

 

Ulahmu tak pernah sudah

Lidahmu tak pernah gerah

Tak kau hiraukan amarah

Oleh kami yang ada dibawah

Cukup sudah !

Semutpun tak selamanya lemah

 

Tingkahmu mulai brutal

Seranganmu makin frontal

Memang, semua nampak janggal

Lantas, dimana jiwa nasional?

Yang dulunya berkobar di atas awan

Sekarang hanya tinggal kesal

Apakah sudah tak ada lagi akal ?

Hingga mudah sekali tuk menyangkal

Tapi tunggu, nyaliku tak dangkal

Aku menuntut pembebasan kekal

Kuingin gerakan kolosal

 

Hei ! kita punya moral

Dengan untaian kata dalam tiap pasal

Ya benar, kau miliki prinsip mahal

Tanpa pernah kau mengamal

Sampai hak kami kau begal

Kau begitu nakal

Layaknya lubang belum ditambal

Apa kau menunggu untuk dicekal ?

 

Gantilah pakaianmu yang kumal

Karena hanya buat kami mual

Berbalut lusuhnya mental !

 

Kami yang tidur di atas aspal

Berharap tuk kau kenal

Tak ada niat untuk terkenal

Hanya tak mau temui kata gagal

 

Pak pejabat, rangkul kami bukan sebagai suatu sial

Atau karena pencitraan massal

Jangan kau lumpuhkan moralitas kontekstual

Tak sekedar estetika semata kami berbekal

 

Pak pejabat, tolong wujudkan

Keutamaan sebagai kebiasaan

Hingga kami tak perlu menunggu adanya kebijakan

Kembangkan harta, jangan serangan

Bukan dengan dentaman atau hantaman

Namun, awali dari kebudayaan

Tak harus melibatkan seniman

 

Didik kami, tatar kami untuk beriman

Agar miliki kepribadian

Bernalar, Berakal budi dan Berteman

Hingga tercipta paradigma baru bukan kawakan

 

Pak pejabat, ini bukan lawakan

Nyatakan kau masih dermawan

Kami tak bermaksud melawan

Hanya inginkan perubahan

Agar tak terjadi pelemahan konstribusi pemikiran

Terkait pertumbuhan ekonomi kerakyatan

Jangan sampai terinjak kepentingan golongan kerajaan

Niscaya adil sejahtera menjadi kenyataan

Bukan hanya sekedar angan yang tersimpan

 

 

 

Back to Top